Tidak Hanya Lelaki, Wanitapun Harus Mapan, Ini alasannya…

Please rate this

Dalam hubungan romansa, sering sekali kita mendengar tuntutan bagi laki-laki agar mapan sebelum meminang seorang perempuan. Tuntutan ini pun masuk akal. Apa jadinya sebuah rumah tangga jika sang lelaki belum mapan?

Tentu saja, “mapan” sendiri memiliki arti yang luas. Jika menyoal tentang kemapanan pria dewasa , maka kemapanan seorang pria adalah kesatuan yang lengkap antara emosional, spiritual, dan material. Yes?

Tidak bisa dibayangkan dong, apa rasanya nikah sama pria yang gampang marah, gampang emosi, dan gampang melakukan kekerasan? Apa jadinya jika seorang pria – apapun agamanya – tidak memiliki kematangan dalam membimbing kehidupan spiritual keluarganya? Terakhir, seorang pria memang tidak harus langsung kaya secara materi jika ingin menikah, tapi minimal sudah siap untuk memimpin dan menafkahi keluarganya. Tidak perlu munafik, lha memangnya anak istri bisa dikasih makan pakai cinta?

Jadi, ladies sekalian, jangan ragu untuk menuntut lelakimu untuk mapan. Tuntutlah dia untuk bisa memimpin dirinya sendiri, sebelum kelak ia memimpin keluarga masa depan kalian. Carilah pria dewasa, bukan bocah berumur tua.

Tapi tunggu dulu, apakah memang harus selalu pria yang dituntut untuk serba ini dan serba itu? Apakah lantas wanita tidak perlu melakukan apapun atau berperan apapun? Nah!

Logika saja kawan, kalau laki-laki harus mapan, maka perempuan juga harus siap untuk mapan!

Kamu ingin cowokmu mapan? Kamu menuntut dia menjadi imam yang baik, yang memiliki kedewasaan mental, punya pemahaman agama yang matang, serta kesiapan untuk menafkahi dirimu dan keluarga? Bagus! Karena memang itulah kewajiban seorang lelaki. Tapi apakah cukup hanya lelaki saja yang berusaha? Kalau laki-laki harus mapan, maka perempuan harus siap untuk mapan!

Percuma jika ia dewasa, tapi kamu tetap egois

Sekarang begini, katakanlah laki-lakimu, dengan segala kekurangannya, sudah bersiap untuk membuang ego pribadinya demi memimpin kamu dan keluarga. Ia bersiap untuk membuang kata “aku” dan “kamu” menjadi “kita.” Tidak akan ada lagi barang ataupun harta yang akan ia sebut sebagai “milikmu” dan “milikku,” semuanya akan ia sebut sebagai “milik kita.”

Lha iya dong, punya rumah juga berdua, makan semeja, tidur sekasur, mandi segayung, hidup bersama, apa iya masih ada harta yang perlu disimpan sendiri dan tidak dibagi bersama? Bahkan sekalipun kedua pihak sama-sama sah saja memiliki kepemilikan pribadi, tapi seorang laki-laki dewasa pasti akan memprioritaskan untuk mengurus apa yang memang menjadi milik kalian bersama.

Dalam mengambil keputusan pun, tidak jarang seorang pria harus bisa mendahulukan kepentingan bersama ketimbang kepentingan pribadinya sendiri. Jika ia dihadapkan pada pilihan, akan memilih tinggal di rumah yang dekat orang tuanya atau dekat dengan orang tua istrinya, dan ia tahu orang tua istrinya sedang sakit-sakitan, tentu ia akan memilih untuk tinggal di dekat orang tua istrinya.

Kendati ia ingin sekali hidup dekat dengan orang tuanya sendiri, tapi ia sadar betul orang tua istrinya lebih membutuhkan keberadaan anak mereka yang telah ia pinang. Itulah sikap seorang pria dewasa yang tidak egois.

Nah, tapi kemudian bagaimana dengan si wanita? Jika sang pria, sang suami, telah bersikap dewasa, bagaimanakah seharusnya sikap sang wanita?

Yap, tentu saja sang wanita harus juga bisa siap bertumbuh dalam kedewasaan sang pria. Sang wanita tentu harus siap mengikuti arahan imamnya dalam menjalani kehidupan bersama. Sang wanita harus sadar bahwa suaminya telah mengorbankan kepentingan pribadinya demi kepentingan kalian bersama. Maka itu, sang istri pun wajib untuk membuat pengorbanan yang sama, dan siap untuk menempuh segala kesulitan bersama suaminya.

Hampir tidak bisa dibayangkan jika sang pria sudah susah-susah berkorban demi kepentingan bersama, namun sang wanita tetap saja memiliki ego. Sebentar-sebentar marah dan kecewa, di lain waktu manja minta dibelikan ini-itu dan minta diantar ke sana-sini, besoknya sedih karena merasa tidak dimengerti, minggu depan minta mempekerjakan babysitter untuk mengurus anak, bulan depan minta uang buat belanja batu akik. Duh!

Bayangkan ketika ia mengajakmu untuk menunaikan ibadah bersama, namun hatimu sudah tertutup.

Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, hampir semua agama mengamini hal tersebut. Ketika sepasang insan memutuskan untuk menikah, artinya mereka melakukan janji suci dan sumpah setia di atas kitab suci. Jika sudah begitu, bukankah itu berarti pernikahan kalian bukan saja perjanjian antar dua insan, namun juga adalah janji kepada Yang Maha Kuasa?

Memiliki pasangan lawan jenis, memiliki anak, dan mendirikan keluarga, adalah kodrat manusia yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Sehingga ketika kita memiliki pasangan, artinya kita telah menjalani kodrat tersebut dan tengah beribadah pada-Nya. Yap, kehidupan rumah tangga bukan sekedar hidup bersama atau memiliki harta bersama, tapi juga adalah sebuah perjalanan spiritual, yes?

Jadi, sangat wajar jika seorang wanita menuntut pria untuk bisa menjadi imam yang baik, menjadi seorang pemimpin spiritual bagi keluarga yang tengah dibangun bersama. Namun, tentu bukan hanya pria yang memiliki peran penting di sini. Justru sang wanita juga krusial perannya dalam mengikuti arahan sang imam dan bahkan ikut menegur suaminya jika kelak berbuat salah.

Tidak ada gunanya jika seorang pria bersusah-payah berusaha membimbing akhlak keluarganya, tapi hati sang wanita telah tertutup. Namanya juga shalat berjama’ah, tidak ada gunanya seorang imam bergerak tapi sang makmun tidak mengikuti gerakan tersebut, atau malah tidak melaksanakan shalat.

Jadi, ingatlah bahwa berumahtangga adalah ibadah kolektif yang membutuhkan partisipasi baik imam dan makmun, tanpa mengharapkan apapun kecuali ridho dari-Nya.

Terakhir, jangan pula tuntut pria untuk mapan dalam mencari nafkah, jika sang wanita tidak siap mengatur nafkah tersebut

Oke, isu ekonomi, nafkah, dan keuangan memang sering menjadi isu sensitif. Banyak sekali wanita yang memang masih mengukur pria dari kemapanan dan kesiapan materinya jika menyoal pernikahan.

Seorang pria muda memang tidak harus kaya, tapi minimal ia perlu punya kesiapan finansial untuk menjamin masa depan keluarganya nanti. Misalnya, ia sudah bekerja meski gajinya kecil, punya usaha sendiri meski masih merintis, atau berpendidikan tinggi sehingga tidak sulit mendapat pekerjaan.

Tuntutan seperti itu sah-sah saja. Di kalangan pria sendiri, mereka sudah sadar bahwa kemapanan materi mereka memang harus disiapkan jika memang benar-benar ingin membina keluarga. Semua pria (yang memang dewasa) pasti paham benar kok tuntutan seperti itu. Jadi tidak mungkin mereka akan berkata:

“Ih cewek matre banget yak! Gak mau nikah ama gue karena gue masih miskin dan masih makan pake duit orang tua gue!”

Well, come on dude. Kalo ente aja makan masih minta ama emak, lha gimana mau ngasih makan bini? Apalagi nyuruh bini ngelahirin anak. Mau dikasih makan apa anak lo? Nasi kerupuk?

Nah, sekarang coba kita lihat dari sudut pandang lain. Katakanlah si pria sudah menyadari posisinya sebagai tulang punggung nafkah keluarga. Meski ia tidak kaya raya, ia pun dengan giat bekerja banting tulang demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia pun menyerahkan sepenuhnya urusan rumah dan keuangan keluarga pada istrinya, sehingga ia bisa fokus mencari uang. Tapi oh tapi, si wanita juga ternyata tidak lihai mengatur harta keluarga. Segala jenis perhiasan dan batu akik dibeli, tapi kompor rusak dan uang sekolah anak tidak terurus. Duh!

Jadi intinya, jangan menuntut hanya pria saja yang bisa mencari uang, lha wanita juga harus pandai kalau begitu dalam mengatur keuangan!

Nah, begitulah sedikit narasi tentang mapan dan kesiapan untuk mapan. Untuk pria, mapankanlah jiwa dan ragamu untuk bisa memimpin keluargamu. Untuk wanita, persiapkanlah dirimu untuk mengikuti arahan suami, dan persiapkan dirimu untuk bisa sepantasnya hidup mapan bersama dia.

 

Sumber: isigood.com

Leave a Reply

%d bloggers like this: